Senin, 26 September 2016

Jawaban


Masa depan adalah sebuah misteri. Bahkan satu detik kedepan saja kita tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi. Termasuk masalah jodoh. Dalam hidup saya, misteri siapa jodoh saya adalah hal yang paling membuat saya penasaran dan excited. Siapakah dia yang kelak akan membersamai saya dalam langkah ini? Pertanyaan yang hanya bisa saya jawab dengan terus berusaha memperbaiki diri dan berdo’a untuk diberikan yang terbaik.
Saya termasuk orang yang tidak setuju bahwa berpacaran adalah salahsatu bentuk usaha (ikhtiar) untuk mendapatkan jodoh dan lebih mengenal pasangan kita kelak. Alasannya? Ah, rasanya terlalu banyak alasan yang bisa diungkapkan untuk itu. Untuk saat ini saya tidak akan membahas itu.
Seperti apa suami saya kelak? Apakah dia orang yang benar-benar saya kenal? Atau teman ketika sekolah dulu? Teman kuliah? Teman satu organisasi? Itulah serentetan pertanyaan yang dulu muncul dalam pikiran dan tentu saja saya selalu menanti jawabannya. Ahad, 18 September 2016 akhirnya pertanyaan-pertanyaan saya tentang dia terjawab sudah. Ketika janji sakral itu terucap, maka benarlah bahwa dia adalah jawaban atas segala do’a saya selama ini. Dialah jodoh saya. Seseorang yang akan membersamai langkah saya. Seseorang yang menjadi imam saya. Dan seseorang yang akan menjadi teman hidup saya selamanya.
Ternyata dia adalah teman saya ketika SMP dulu. Saya mengenalnya untuk pertama kali ketika kami duduk di kelas 8 SMP. Dengan berakhirnya masa SMP, maka berakhir pula komunikasi di antara kami. Kami sekolah di SMA yang berbeda. Saya dan dia sibuk dengan kehidupan masing-masing. Mengejar cita-cita diri kami masing-masing.
Delapan tahun berlalu setelah masa SMP berakhir. Cita-cita saya mulai terwujud saatu per satu. Saya lulus kuliah dan menjadi seorang guru matematika. Dia mulai membuka kembali komunikasi di antara kami. Dan ternyata komunikasinya berakhir pada permintaan dia untuk berta’aruf (berkenalan) menuju tahapan lebih serius (pernikahan). Saya pelajari mengenai dia yang sekarang melalui apa-apa yang disampaikannya.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan proses ini. Kenapa prosesnya cukup panjang? Waktu itu saya masih berpikiran bahwa saya belum siap untuk menikah dalam waktu dekat dan masih ada cita-cita yang ingin saya wujudkan yang menurut pandangan saya ketika itu, cita-cita tersebut tidak dapat diwujudkan jika saya sudah menikah. Istikhoroh dan tentunya do’a restu orangtua lah yang membantu saya menemukan jawaban pada akhirnya. Setiap petunjuk yang diberikan semakin membuat saya yakin untuk melangkah menuju pernikahan ini. Kami ditemani mahram kami masing-masing bertemu untuk berta’aruf langsung. Kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan prosesnya. Lalu dia pun mendatangi kedua orangtua saya. Sampai pada akhirnya dia mengkhitbah saya pada 11 Juli 2016.
Lalu bagaimana saya bisa yakin bahwa dia adalah orangnya (Mr Right)? Dulu saya pun sempat berpikiran bahwa saya akan sulit menemukan pasangan yang cocok dengan saya. Bukan karena saya menginginkan pasangan yang ideal / sempurna tapi lebih karena saya yang merasa sulit untuk menemukan seseorang yang sejalan dengan saya yang bisa menerima saya yang sedikit perfectionist, keras kepala, introvert dan segala karakter lainnya yang ada pada diri saya.
Akan tetapi, pada dirinya saya merasa yakin bahwa dia mau menerima dan menyayangi saya seutuhnya. Pada dirinya saya merasa yakin bahwa kami memiliki tujuan yang sama dalam berlayar di kehidupan ini. Pada dirinya saya merasa yakin bahwa dia bisa memimpin saya menjadi sosok yang lebih baik lagi. Dan pada dirinya saya merasa yakin karena dia adalah seseorang yang orangtua saya ridhoi sebagai orang yang akan mengambil alih tanggungjawab atas saya semenjak ijab qobul terucap hingga selamanya.
Ini adalah lembaran awal dari kisah kami, saya dan dia. Kami yang ditakdirkan berjodoh oleh Nya. Kami yang bersama bukan karena kami sempurna. Tapi justru dari ketidaksempurnaan yang kami miliki itu lah kami berusaha untuk saling memperbaiki dan melengkapi. Satu yang sangat kami inginkan adalah keridhoan dan keberkahanNya dalam kehidupan kami sehingga kami dapat digolongkan sebagai orang yang saling mencintai karenaNya yang kelak akan dikumpulkan kembali di surgaNya.
09.30pm

26092016

Selasa, 21 Juni 2016

Hadiah Terbaik Itu



Setelah 11 bulan berjuang, maka di bulan inilah kita diberikan jamuan, pelatihan dan amunisi agar kita dapat melanjutkan perjuangan di 11 bulan berikutnya Bulan spesial ini selalu datang sebagai pelepas dahaga. Begitu pun dengan ramadhan kali ini. Ramadhan untuk pertama kalinya saya jalani di lingkungan sekolah tempat dimana saya mengajar. Kegiatannya tidak jauh berbeda sebenarnya. Hanya saja ada salahhsatu program yang dikhususkan untuk bulan ramadhan ini. Yaitu tasmi Al Quran 30 juz dalam waktu 2 hari. Tasmi ini dilaksanakan di masing-masing Masjid putra dan putri oleh seorang hafidz dan hafidzah.

Bagi saya, ini adalah salahsatu pengalaman luar biasa. Menyaksikan bagaimana seorang hafidzah mentasmikan hafalannya sebanyak 30 juz dalam 2 hari. Dari awal saya mengajar di sini, program tahfidz untuk siswa/siswi di sini adalah program yang membuat saya kagum. Betapa beruntungnya mereka yang sejak dini telah menghafal Al Quran.  Rasa optimis selalu menyeruak kala membayangkan bahwa kelak Bangsa ini akan diisi oleh mereka, generasi para penghafal dan pengamal Al Quran.

Rasa iri pun tidak bisa saya tahan, setiap kali melihat seorang hafidz/hafidzah. Bagaimana tidak, mereka mampu menghafal Al Quran 30 juz dan mempersembahkan hadiah terbaik untuk kedua orangtuanya di surga nanti. Kebahagiaan yang luar biasa ketika seorang anak dapat memberikan hadiah terbaik itu untuk kedua orangtuanya sebagai salasatu tanda bakti. Itu lah alasan mengapa rasa iri saya tak dapat saya tahan.

Saya sadar, saya tidak boleh hanya terhenti pada rasa iri itu. Tapi saya harus bergerak bagaimana agar saya pun dapat memberikan hadiah terbaik itu untuk kedua orangtua saya kelak. Sempat terlintas dalam pikiran saya, bagaimana jika saya meninggal sebelum saya dapat menghafalkan 30 juz Al Quran? Pertanyaan dalam benak saya itu pun terjawab ketika seorang ustadz menjelaskan bahwa Allah itu melihat bagaimana proses kita. Bahkan rasa pesimis dari banyak orang yang mengatakan sulit untuk bisa menghafal Al Quran dengan berbagai alasan seperti waktu yang sedikit karena kesibukan, usia yang sudah tua sehingga susah ingat dan cepat lupa, atau alasan lainnya juga terjawab dengan penjelasan tadi. Kemampuan dan kondisi setiap orang berbeda-beda. Maka yang terpenting adalah jangan pernah berhenti berusaha dan kuatkan tekad. Allah maha menyaksikan setiap ikhtiar hambaNya.

Ramadahan adalah bulan Al Quran. Maka ini merupakan momen yang tepat untuk melatih kita agar senantiasa dekat dengan Al Quran. Selama napas masih membersamai, maka tidak ada kata berhenti untuk mempelajari ilmuNya. Dalam Al Quran lah terdapat petunjuk, pembeda yang haq & bathil, penyembuh, serta pedoman agar kita sampai pada tujuan kita. Karena tujuan kita bukanlah dunia ini. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara serta tempat kita beramal sebelum kita berpulang ke alam yang abadi yaitu akhirat. Tidak ada kata terlambat bagi orang yang mau memperbaiki diri. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakan kesempatan yang masih ada untuk menjadi lebih baik. Kata kuncinya adalah mulailah dari sekarang.

Al Quran yang tersimpan rapi di sudut lemari itu senantiasa menunggu. Ia tidak ingin hanya dijadikan sebagai pajangan lemari atau sekadar koleksi perpustakaan mini di rumah. Ia lebih bahagia jika ia lecek atau bahkan covernya beberapa kali diperbaiki setelah terlepas karena seringnya ia dibaca. Maka mulailah membacanya, mentadaburinya, menghafalnya, mempelajarinya dan yang paling utama adalah jangan lupa untuk mengamalkannya.

14062016   

  
  

Kamis, 31 Maret 2016

Catatan Guru 2

Tidak terasa hampir sembilan bulan saya mengajar di sini. Minggu depan (4 April 2016) siswa kelas XII akan melaksanakan Ujian Nasional. Ya, ujian yang akan mengukur dan mengevaluasi hasil belajar siswa selama tiga tahun. Ujian Nasional yang sistemnya masih banyak diperdebatkan dan dipertanyakan pada akhirnya selalu dilaksanakan setiap tahunnya. Dari dulu, bahkan mungkin dari pertama kali Ujian Nasional itu diselenggarakan ada satu hal yang menjadi ujian sebenarnya, yaitu ujian kejujuran. Jangan sampai hasil belajar selama tiga tahun itu diakhiri dengan ketidakjujuran.

Kembali ke masa selama sembilan bulan saya berada di sekolah ini. Tentu banyak warna dalam sembilan bulan ini. Saya yang mulanya asing dengan kehidupan boarding school, kini mulai terbiasa dengan segala rutinitasnya yang khas. Saya yang mulanya tak terbiasa mengajar di kelas homogen (dipisah putra – putri), kini mulai nyaman dengan kondisi tersebut (termasuk mengajar di kelas yang hanya dihuni laki-laki). 

Banyak hal baru yang saya pelajari di sini. Saya yang minim pengalaman ini banyak belajar dari rekan sesama guru, teman satu asrama, seluruh civitas sekolah yang terlibat bahkan saya pun banyak belajar dari siswa. Menurut saya, bukan hal yang mudah untuk dapat membiasakan diri tinggal di boarding school di usia remaja seperti mereka. Jauh dari keluarga, peraturan yang ketat, jadwal belajar dan kegiatan kepesantrenan yang padat adalah beberapa hal yang tentunya perlu perjuangan dalam menjalaninya. Semua itu dilakukan untuk menempa mereka agar mereka kelak menjadi pribadi yang lebih baik.  
  
Sembilan bulan ini tentu saja tak selalu berjalan mulus. Terkadang rasa kesal /bad mood menemani. Marah/ kecewa juga pernah hadir. Akan tetapi semua itu tertutup oleh rasa bahagia yang saya rasakan ketika menyaksikan siswa yang rajin berusaha, jujur ketika ulangan, kemampuannya dalam matematika mmengalami kemajuan dan masih banyak hal lainnya. Ada kepuasan batin tersendiri ketika siswa mau berusaha sebaik-baiknya dan pada akhirnya dia menjadi bisa. Sekecil apa pun kemajuan itu, itu menjadi sangat berarti ketika memperolehnya dengan usaha yang benar. 

Rasanya saya masih jauh dari kata pantas untuk disebut sebagai seorang guru. Semakin saya menjalaninya, maka saya pun semakin sadar bahwa amanah dari seorang guru itu cukup berat. Siswa tipe A, B, C, …, siswa yang beragam karakternya itu  semuanya harus guru didik agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Sabar sepertinya menjadi salahsatu teman terbaik dari seorang guru. Ketika seorang siswa berbuat salah, maka ingatkan mereka dengan didasari rasa kasihsayang. Tegas tak selalu identik dengan marah.  

Karena saya lebih banyak mengajar di kelas XII, maka pekan ini adalah pekan terakhir belajar bersama mereka. Saya awalnya asing sekali dengan mereka (bahkan untuk menghapal nama mereka saja saya mengalami kesulitan). Setelah beberapa bulan, akhirnya saya mulai hapal nama dan mengenal karakter mereka. Tipe humoris yang pencair suasana, tipe serius yang selalu fokus , tipe santai yang kalau lagi belajar saking santainya dia tidur di kelas, tipe kalem yang tak banyak bicara tapi langsung action, tipe banyak bicara yang rajin bertanya (apapun itu ditanyakan) dan masih banyak lagi.   

Tidak lama lagi mereka akan melepas seragam putih abu nya untuk melanjutkan jalan menuju cita-cita dan mimpi mereka. Mereka akan menjalani fase kehidupan berikutnya yaitu hidup di lingkungan baru dengan tak lagi menyandang gelar sebagai siswa. Lingkungan dimana mereka tak lagi berada di sekolah, tapi mereka telah dilepas untuk berada di tengah masyarakat. Semoga mereka dapat mewujudkan cita-cita dan mimpinya serta semoga mereka selalu berada di jalanNya sesulit apapun itu, sebesar apapun rintangannya nanti di mana pun mereka berada.
10 pm
29032016

Sabtu, 30 Januari 2016

Jalan Lurus Tak Berarti Mulus


Hidup ini adalah pilihan. Tentu saja itu semua bukan sekedar kata-kata. Pada kenyataannya bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Putih atau hitam, benar atau salah, tak ada abu-abu atau diantara yang benar dan salah. Sebagai manusia, kita dibekali akal dan hati untuk dapat menentukan pilihan yang benar. Selain itu, Allah yang menciptakan kita pun membekali kita dengan buku pedoman, ilmu serta contoh teladan manusia yang telah menjalani kehidupan ini dengan memilih jalan yang lurus. Berbekal itu semua, tinggallah kita yang menentukan tujuan apa yang ingin kita capai dalam kehidupan ini dan jalan mana yang kita pilih.

Salahsatunya adalah pilihan jujur atau tidak jujur. Kita lah yang memilih. Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensinya masing-masing. Mulai dari hal kejujuran. Sesuai fitrahnya, setiap manusia pasti menginginkan kejujuran dan menyukai kejujuran. Akan tetapi itu nukan berarti bahwa setiap manusia memilih jalan jujur. Bahkan, dari beberapa kejadian yang saya amati, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak orang yang menyukai kejujuran, mengiyakan bahwa jujur itu benar tetapi sedikit orang yang setia dengan kejujuran. Ada satu hal yang ingin saya tekankan kembali, jujur itu bukan polos / (lugu) / mengatakan semuanya tanpa saringan bahkan mengatakan apa yang tak penting atau yang tak seharusnya dikatakan.

  Jika kita memilih jujur, maka sekali lagi bersiaplah pula dengan konsekuensinya. Buah dari kejujuran tak selalu langsung terasa manis. Pada awalnya mungkin terasa asam atau bahkan pahit. Salah satu contoh riil saat ini adalah untuk naik jabatan di sebuah instansi misalnya sudah jadi rahasia umum jika harus ada uang pelicin. Persyaratan yang tertera dalam peraturan hanyalah sebagai hiasan indah yang tak lagi diindahkan. Sederet persyaratan tersebut kadang menjadi tak berarti jika kita penuhi tanpa adanya “si pelicin”. Dan sebaliknya, sederet persyaratan tersebut dengan ajaib akan langsung terpenuhi jika “si pelicin” hadir. Kabar bahagianya adalah dalam kondisi yang seperti itu tak sedikit pula yang masih setia dengan kejujuran.

Contoh riil berikutnya adalah ujian kejujuran bagi seorang siswa. Sebagai siswa, jika kita memilih jujur dalan Ujian Nasional maka kenyataannya tak selalu “si jujur” itu menjadi siswa peraih nilai terbaik. Ada kalanya “si jujur” harus menyaksikan temannya yang mendapatkan contekan (menyontek) naik panggung memegang tropi sebagai peraih nilai terbaik Ujian Nasional di sekolahnya. Awalnya mungkin terasa pahit bagi “si jujur”. Tapi rasa manis yang dirasakan temannya yang menyontek itu pun hanyalah sementara. Rasa manis itu akan berbalik menjadi pahit bak pemanis buatan karena hati nurani tak pernah bisa dibohongi.   

Anehnya lagi “si jujur” sering pula disebut bodoh atau pun munafik. Padahal jelas sekali jauh berbeda antara jujur dan bodoh atupun jujur dan munafik. Jika setiap yang benar dan baik itu dikatakan munafik, lantas disebut apa orang yang merampas hak orang lain, membunuh, memperkosa, korupsi dsb. Yang munafik  itu bukanlah “si jujur” ataupun kebaikan. Munafik itu justru adalah ketika suatu kebaikan dilakukan dengan kepura-puraan / ketidakjujuran (kepalsuan). Misal berpura-pura peduli, berpura-pura jujur, dan kepura-puraan serta kepalsuan lainnya. Itu lah mengapa dalam beramal / melakukan sesuatu salahsatu hal yang harus selalu dijaga adalah niat yang ikhlas.  

 Hanya dari satu buah pilihan jujur atau tidak jujur saja sudah banyak hal yang harus kita lewati sebagai ujian ketika memilih jalan jujur. Belum lagi dengan pilihan-pilihan lainnya. Ketika kita memilih kebenaran (jalan lurus) maka tak berarti jalan itu akan mulus tanpa rintangan. Ada kalanya, harus tertusuk duri, tertatih-tatih, atau bahkan sampai jatuh. Manusia yang menjadi suri tauladan bagi kita bahkan kehidupannya penuh dengan ujian yang lebih berat dari apa yang kita alami saat ini. Akan tetapi ujian itu Beliau nikmati hingga yang Beliau rasakan dari setiap ujian tersebut justru adalah rasa manis. Itu semua karena beliau tahu apa yang menjadi tujuan dalam kehidupan ini dan tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk sampai pada tujuan tersebut

“Tulisan ini juga sebagai bahan refleksi dan pengingat bagi diri saya sendiri”

Bogor, 30012016 10.45 pm   

Sabtu, 21 November 2015

Perempuan Spesial


Sebuah tayangan tentang seorang anak (yang sekarang telah menjadi ayah) yang menelusuri tempat dimana tersimpan kenangan tentang ayahnya yang sudah tiada sejak usianya 100 hari mengingatkan saya pada sosok perempuan special dalam hidup ini. Engkau pun pasti merasakan hal yang sama dengan anak itu bukan? Selama ini, kau begitu merindukan sosok ibu yang hanya kau kenali wajahnya melalui selembar foto saja.  Ya, masih teringat jelas ketika engkau berkisah bahwa kau ditinggalkan oleh ibu menghadapNya tapat 2 tahun setelah kau terlahir.
Setiap kali mengingat itu, saya tahu ada rindu yang begitu dalam yang selalu kau sembunyikan dengan wajah tegar ketika menceritakannya. Saya yang hanya membayangkan bagaimana sulitnya masa-masa yang kau alami tanpa kehadiran seorang ibu saja tak dapat menahan air mata, apalagi kau yang mengalaminya. Hebatnya engkau, kau tak pernah memperlihatkan itu di depan kami, anak-anakmu. Kau sembunyikan tangis kerinduan itu dalam untaian do’a-do’a untuknya.
Engkau perempuan yang begitu memesona dan mengagumkan untuk saya. Kau didik kami dengan penuh keikhlasan. Teringat ketika kau mengantarkan saya sekolah untuk pertama kalinya. Kau begitu sabar menunggui saya yang masih tak ingin ditinggal pergi sendiri di sekolah. Padahal kau sendiri bahkan harus mandiri sejak pertama masuk sekolah karena tak ada sosok ibu yang mengantar.
Masa remaja seorang anak perempuan adalah masa dimana dia begitu banyak bercerita dengan ibunya mengenai apa pun termasuk masa puber yang dialami. Saya pun begitu. Engkau adalah tempat curhat yang paling menyenangkan, paling mengerti tentang apa yang saya alami. Ketika itu, kemana kau tumpahkan kisah yang ingin kau curhatkan dengan sorang ibu? Saat pembagian rapot atau acara kenaikan kelas adalah salah satu momen yang paling membahagiakan. Begitu pun dengan saya. Begitu bahagia ketika kau mendampingi dari awal dan tersenyum bahagia ketika anakmu ini mendapatkan hasil terbaik. Engkau pun dulu pasti begitu menginginkan dapat didampingi dan menunjukkan hal-hal yang terbaik yang kau lakukan kepada seorang ibu.
Sulit rasanya membayangkan betapa perihnya rindu yang kau alami ketika kau menggenapkan setengah din tanpa kehadiran sosok ibu. Ketika itu kau pasti begitu merindukannya, berharap seorang ibu bisa menyaksikan kau yang telah menjadi seorang istri. Bukan hal mudah untuk dapat melewati masa-masa itu. Tapi kau telah berhasil lulus dalam ujian itu. Benarlah bahwa Allah tidak mungkin memberikan ujian di luar kemampuan hambaNya dan skenarioNya adalah yang terbaik. Allah begitu maha pengasih lagi maha penyayang. Dia wakilkan kasih sayang seorang ibu untuk kau melalui orang-orang yang sama ikhlasnya  dengan kasih sayang seorang ibu.
Tanpa pernah kau rasakan langsung bagaimana kesempurnaan kasih sayang seorang ibu, kini kau telah menjadi seorang ibu yang sempurna bagi kami.  Terimakasih mamah. Terimakasih wahai perempuan special dalam hidup ini atas kesempurnaan cinta dan kasih sayang yang selalu kau hujankan pada kami.
Chy_pratiwi

211115 16pm

Minggu, 30 Agustus 2015

Catatan Guru 1


Masih jelas dalam ingatan, di masa kecil saya bermain peran dengan teman-teman sebaya saya sebagai guru dan murid. Menjadi seorang guru adalah peran yang sering saya pilih di kala itu. Padahal ketika itu tidak terlintas cita-cita saya ingin menjadi seorang guru. Hanya saja saya senang memerankannya, pura-pura mengajarkan teman sebagai murid, membuat soal ulangan dan tentunya berpura-pura menilai ulangan.
Kini, jika mengingat momen itu saya sering tersenyum sendiri. Bagaimana tidak, ternyata takdir mengantarkan saya untuk benar-benar menjadi seorang guru. Tidak pernah terbayang sebelumnya. Seperti yang pernah saya tulis pada tulisan saya sebelumnya, menjadi seorang guru bukanlah cita-cita utama saya. Awalnya saya bercita-cita untuk menjadi seorang dokter atau ahli kesehatan. Ternyata takdir berkata lain, saya masuk jurusan pendidikan matematika UPI dan tentunya disiapkan untuk menjadi seorang guru matematika. Allah memang maha mengetahui diri saya, karena seiring berjalannya waktu ternyata saya mencintai bidang ini. Saya yang gampang linu melihat luka memang kurang tepat untuk menjadi dokter.
Tahun ini adalah untuk pertama kalinya saya menjadi guru di sekolah sebagai suatu profesi atau pekerjaan. Berat memang, tanggungjawab sebagai seorang guru tak dapat dipandang remeh begitupun dengan profesi lainnya. Saya ditempatkan untuk mengajar empat kelas XII dan satu kelas XI. Muncullah beberapa pertanyaan dalam benak, “bisakah saya mengajar kelas XII?”. Dalam pikiran saya, untuk mengajar kelas XII haruslah guru senior yang pengalamannya pun sudah banyak. Keraguan yang muncul pun saya jawab dengan berhusnudzon. Dia mempercayakan amanah ini untuk saya karena saya mampu menjalankannya.
Sekolah tempat saya mengajar adalah Islamic Boarding School , dengan kelas putra dan putrid dipisah. Ketika awal mengetahui bahwa kelasnya dipisah, hal yang mengganjal dalam pikiran saya adalah bagaimana jika saya kebagian mengajar di kelas putra. “Sudah kelas XII, putra pula? Di kelas itu saya perempuan sendiri di tengah 32 putra. Alhasil pikiran-pikiran negatif itu pun mulai menghantui. “bagaimana jika anak putra itu jahilnya luar biasa? Kata orang, anak Islamic biarding school itu kalau yang sholeh sholeeeh banget ya kalau yang nakal nakaalnya juga banget”. Lagi, takdir mengantarkan saya pada hal-hal yang saya takuti. Dari lima kelas yang saya ajar, 3 kelas diantaranya adalah kelas putra.
Saya berusaha kembali menjawab ketakutan ini dengan berhusnudzon. Allah mengetahui kelemahan saya, dan saya diuji untuk dapat melewatinya dengan kemampuan/ potensi saya yang saya sendiri masih meragukannya akan tetapi Allah maha mengetahui bahwa saya memiliki potensi itu. Hari yang ditunggu dan mendebarkan pun tiba. Hari pertama mengajar dan hari pertama itu jatuh pada kelas XII IPA 1 yang merupakan kelas putra. Dag dig dug pasti, bahkan seperti mau sidang skripsi saja rasanya. Saya melangkah memasuki kelas kemudian mengucapkan salam. Saya tatap semua mata yang juga menatap saya dengan rasa penasaran. Bahkan sebelumsaya mulai perkenal, beberapa orang sudah memulainya dengan pertanyaan. “ibu guru baru ya? Ngajar apa bu?”.  Saya potong pertanyaan mereka dengan memerintahkan ketua kelas untuk berdo’a terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran. Selesai berdo’a, maka pembelajran pun saya mulai dengan berkenalan terlebih dahulu.
Saya memperkenalkan diri seperti biasa, nama, asal daerah, riwayat pendidikan dan tentunya sebagai guru apa. Kemudian saya menyatakan cukup untuk perkenalan diri saya, dan sekarang giliran murid yang memperkenalkan diri. Tiba-tiba beberapa orang mengangkat tangan dan menyampaikan pendapatnya bahwa perkenalan dirasa belum cukup dan masih ada pertanyaan dari mereka. Hmm, dengan sedikit berat hati saya persilakan beberapa orang untuk menyampaikan pertanyaan. Tentunya sudah saya duga, pertanyaan yang sama dan selalu muncul di empat kelas lainnya “ibu usianya berapa tahun? Sudah menikah atau belum?” sebenarnya itu adalah pertanyaan standar yang bisa saja saya beritahu ketika awal memperkenalkan diri, akan tetapi saya tidak mau terlebih dahulu menyampaikan itu di awal perkenalan. Oia, ada satu pertanyaan yang paling lucu diantara yang lainnya : “ibu sudah punya calon suami? Target nikah ibu kapan?” Pertanyaan yang saya jawab dengan sedikit diplomatis,. *haha   

Minggu, 04 Januari 2015

Sajian Spesial Akhir Tahun



Desember 2014, bulan terakhir di tahun 2014 yang menyajikan banyak pembelajaran spesial bagi saya. Kisah yang banyak mengingatkan saya tentang makna kehidupan. Kebahagiaan dan kesedihan tentu akan datang silih berganti dalam kehidupan ini. Keduanya adalah ujian. Ujian bagaimana seharusnya kita menyikapi kebahagiaan dan kesedihan. Banyak makna dan hikmah dalam setiap kisah di dunia ini. Saya ingat seseorang yang mengatakan : “dalam setiap takdir Allah itu pasti terdapat hikmah dan pasti adil”. Keterbatasan ilmu kita (manusia)lah yang membuat kita (manusia) tidak menyadarinya.
20 Desember 2014 bisa disebut sebagai hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari ketika saya resmi diwisuda sebagai sarjana pendidikan matematika. Sebenarnya bagi saya momen yang paling membuat saya terharu adalah ketika sidang skripsi dan pengumuman kelulusan. Wisuda menjadi special karena keluarga ikut datang menyaksikan. Kebahagiaan terbesar saya adalah ketika menyaksikan kedua orangtua saya bahagia. Mereka lah yang sangat berperan selama ini. Mereka tak pernah lelah mendo’akan, membimbing, mendukung saya sampai saya bisa menyelesaikan studi S1 saya. Apapun yang saya lakukan sebagai bakti saya kepada orangtua tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan untuk saya. Saya merasa begitu bersyukur bisa disampaikan olehNya pada momen 20 desember 2014.  
Tak lama setelah momen kebahagiaan wisuda, momen liburan yang ditunggu pun tiba. Momen ketika liburan yang paling saya tunggu adalah saat-saat berkumpul bersama keluarga. Selama kurang lebih 4 tahun saya di bandung, kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga tak pernah berkurang sedikit pun. Kebahagiaan pun semakin bertambah karena pada 28 Desember 2014 keluarga saya pindah rumah ke daerah tempat lahir mamah. Keinginan kami untuk dapat berkumpul bersama keluarga akhirnya dikabulkan oleh Nya. Bagaimana tidak bahagia? Kini kami tinggal berdekatan dengan keluarga kami, terutama keluarga dari mamah termasuk bapa (kakek) & mimih. Semenjak kecil saya dan adik-adik memanggil kakek dengan sebutan bapa. Awalnya mungkin karena mendengar mamah memanggil beliau bapa, jadi saya mengikutinya.
31 Desember 2014. Tiga hari setelah kepindahan kami, pukul 08.00 am bapa (kakek) mengeluh sakit sesak. Kami sekeluarga berkumpul di rumah bapa (kakek). Kemudian kami memutuskan membawa bapa (kakek) ke rumah sakit. Hampir semua keluarga ikut ke rumah sakit. Saya tetap tinggal di rumah bersama mamah karena mengingat kondisi mamah yang lemah. Tak lama berselang, uwa menelpon memberitahukan bahwa bapa (kakek) masuk ruang ICU. Ayah dan adik pertama saya yang di rumah sakit menitip pesan supaya jangan dulu memberitahu mamah. Saya berusaha untuk merahasiakannya, akan tetapi mamah pun akhirnya tahu. Alhamdulillah, kondisi mamah tidak selemah yang kami perkirakan. Mamah cukup kuat menerima kabar itu. Akan tetapi, kekhawatirannya tetap tergambar jelas di wajahnya. Saya berusaha menenangkan diri supaya kuat menerima takdir apapun itu, walaupun di dalam hati saya pun merasakan begitu khawatir dengan kondisi bapa (kakek).
08.30 pm ayah saya dari rumah sakit menelpon kembali. Saya merima telponnya dengan perasaan yang tidak karuan. Berita itu membuat saya sejenak tak dapat berpikir, air mata terus mengalir yang membuat mamah yang menyaksikan ikut menangis sembari terus menanyakan kenapa bapa? Ada apa? Saya menutup telpon dengan tangan gemetar. Saya mencoba menenangkan diri untuk menyampaikan berita itu kepada mamah. Saya harus kuat, supaya mamah pun bisa kuat menerima takdir ini. Setelah mendengar berita itu, tangis mamah pun pecah tak tertahan. Badannya lemas, untuk berdiri saja tak mampu. Saya berusaha mendampinginya supaya bisa lebih kuat. Perlahan-lahan keluarga dan tetangga mulai berdatangan ke rumah bapa(kakek), sedangkan saya dan beberapa keluarga masih di rumah kami berusaha menguatkan mamah. Setelah mamah merasa cukup kuat untuk berdiri, kami pun pergi ke rumah bapa (kakek) yang hanya berjarak beberapa meter. Sepanjang perjalanan ke rumah bapa (kakek) mamah terus memegang erat tangan ini, berusaha menguatkan dirinya.
  Sesampainya di rumah bapa (kakek), jenazah baru saja sampai di antar ambulance. Tangis mamah kembali pecah bersama dengan kakak-kakaknya dan adik-adiknya. Air mata saya pun mengalir semakin deras. Takdir seperti yang saya tulis diatas, sepahit apapun itu, pasti terdapat  hikmah dan pasti adil. Salah satu yang membuat kami ingin pindah ke daerah kelahiran mamah adalah agar kami bisa lebih dekat dengan keluarga terutama bapa (kakek) yang sering sakit. Tiga hari setelah kepindahan kami, bapa (kakek) dipanggil olehNya. Sedih dan pahit rasanya, akan tetapi ini adalah takdirNya dan Allah maha mengetahui yang terbaik untuk kami. Mamah dari hari ke hari semakin kuat menerima takdir bahwa orangtua satu-satunya kini telah menghadap Ilahi.
Ya, begitulah kematian. Datangnya tak pernah dapat kita prediksi. Hari senin (29/12/2014) malam bapa(kakek) menginap di rumah kami. Malam itu, kondisinya terlihat membaik, bahkan kami sempat mengobrol tertawa bersama menceritakan kisahnya jaman dulu. Tak pernah disangka bahwa 2 hari kemudian maut menjemputnya. Kematian adalah pelajaran berharga bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup. Bahwa maut datang tiba-tiba, bahwa hanya amal yang akan dibawa ketika maut telah datang menjemput, bahwa kita harus senantiasa berusaha selalu istiqomah di jalanNya dan berdo’a agar dapat husnul khotimah. InsyaAllah Bapa(kakek) sudah tenang di sana, tinggal tugas kami sebagai keturunannya untuk senantiasa mendo’akannya dan menjadi keturunan yang sholeh dan sholehah.