Sabtu, 21 November 2015

Perempuan Spesial


Sebuah tayangan tentang seorang anak (yang sekarang telah menjadi ayah) yang menelusuri tempat dimana tersimpan kenangan tentang ayahnya yang sudah tiada sejak usianya 100 hari mengingatkan saya pada sosok perempuan special dalam hidup ini. Engkau pun pasti merasakan hal yang sama dengan anak itu bukan? Selama ini, kau begitu merindukan sosok ibu yang hanya kau kenali wajahnya melalui selembar foto saja.  Ya, masih teringat jelas ketika engkau berkisah bahwa kau ditinggalkan oleh ibu menghadapNya tapat 2 tahun setelah kau terlahir.
Setiap kali mengingat itu, saya tahu ada rindu yang begitu dalam yang selalu kau sembunyikan dengan wajah tegar ketika menceritakannya. Saya yang hanya membayangkan bagaimana sulitnya masa-masa yang kau alami tanpa kehadiran seorang ibu saja tak dapat menahan air mata, apalagi kau yang mengalaminya. Hebatnya engkau, kau tak pernah memperlihatkan itu di depan kami, anak-anakmu. Kau sembunyikan tangis kerinduan itu dalam untaian do’a-do’a untuknya.
Engkau perempuan yang begitu memesona dan mengagumkan untuk saya. Kau didik kami dengan penuh keikhlasan. Teringat ketika kau mengantarkan saya sekolah untuk pertama kalinya. Kau begitu sabar menunggui saya yang masih tak ingin ditinggal pergi sendiri di sekolah. Padahal kau sendiri bahkan harus mandiri sejak pertama masuk sekolah karena tak ada sosok ibu yang mengantar.
Masa remaja seorang anak perempuan adalah masa dimana dia begitu banyak bercerita dengan ibunya mengenai apa pun termasuk masa puber yang dialami. Saya pun begitu. Engkau adalah tempat curhat yang paling menyenangkan, paling mengerti tentang apa yang saya alami. Ketika itu, kemana kau tumpahkan kisah yang ingin kau curhatkan dengan sorang ibu? Saat pembagian rapot atau acara kenaikan kelas adalah salah satu momen yang paling membahagiakan. Begitu pun dengan saya. Begitu bahagia ketika kau mendampingi dari awal dan tersenyum bahagia ketika anakmu ini mendapatkan hasil terbaik. Engkau pun dulu pasti begitu menginginkan dapat didampingi dan menunjukkan hal-hal yang terbaik yang kau lakukan kepada seorang ibu.
Sulit rasanya membayangkan betapa perihnya rindu yang kau alami ketika kau menggenapkan setengah din tanpa kehadiran sosok ibu. Ketika itu kau pasti begitu merindukannya, berharap seorang ibu bisa menyaksikan kau yang telah menjadi seorang istri. Bukan hal mudah untuk dapat melewati masa-masa itu. Tapi kau telah berhasil lulus dalam ujian itu. Benarlah bahwa Allah tidak mungkin memberikan ujian di luar kemampuan hambaNya dan skenarioNya adalah yang terbaik. Allah begitu maha pengasih lagi maha penyayang. Dia wakilkan kasih sayang seorang ibu untuk kau melalui orang-orang yang sama ikhlasnya  dengan kasih sayang seorang ibu.
Tanpa pernah kau rasakan langsung bagaimana kesempurnaan kasih sayang seorang ibu, kini kau telah menjadi seorang ibu yang sempurna bagi kami.  Terimakasih mamah. Terimakasih wahai perempuan special dalam hidup ini atas kesempurnaan cinta dan kasih sayang yang selalu kau hujankan pada kami.
Chy_pratiwi

211115 16pm

Minggu, 30 Agustus 2015

Catatan Guru 1


Masih jelas dalam ingatan, di masa kecil saya bermain peran dengan teman-teman sebaya saya sebagai guru dan murid. Menjadi seorang guru adalah peran yang sering saya pilih di kala itu. Padahal ketika itu tidak terlintas cita-cita saya ingin menjadi seorang guru. Hanya saja saya senang memerankannya, pura-pura mengajarkan teman sebagai murid, membuat soal ulangan dan tentunya berpura-pura menilai ulangan.
Kini, jika mengingat momen itu saya sering tersenyum sendiri. Bagaimana tidak, ternyata takdir mengantarkan saya untuk benar-benar menjadi seorang guru. Tidak pernah terbayang sebelumnya. Seperti yang pernah saya tulis pada tulisan saya sebelumnya, menjadi seorang guru bukanlah cita-cita utama saya. Awalnya saya bercita-cita untuk menjadi seorang dokter atau ahli kesehatan. Ternyata takdir berkata lain, saya masuk jurusan pendidikan matematika UPI dan tentunya disiapkan untuk menjadi seorang guru matematika. Allah memang maha mengetahui diri saya, karena seiring berjalannya waktu ternyata saya mencintai bidang ini. Saya yang gampang linu melihat luka memang kurang tepat untuk menjadi dokter.
Tahun ini adalah untuk pertama kalinya saya menjadi guru di sekolah sebagai suatu profesi atau pekerjaan. Berat memang, tanggungjawab sebagai seorang guru tak dapat dipandang remeh begitupun dengan profesi lainnya. Saya ditempatkan untuk mengajar empat kelas XII dan satu kelas XI. Muncullah beberapa pertanyaan dalam benak, “bisakah saya mengajar kelas XII?”. Dalam pikiran saya, untuk mengajar kelas XII haruslah guru senior yang pengalamannya pun sudah banyak. Keraguan yang muncul pun saya jawab dengan berhusnudzon. Dia mempercayakan amanah ini untuk saya karena saya mampu menjalankannya.
Sekolah tempat saya mengajar adalah Islamic Boarding School , dengan kelas putra dan putrid dipisah. Ketika awal mengetahui bahwa kelasnya dipisah, hal yang mengganjal dalam pikiran saya adalah bagaimana jika saya kebagian mengajar di kelas putra. “Sudah kelas XII, putra pula? Di kelas itu saya perempuan sendiri di tengah 32 putra. Alhasil pikiran-pikiran negatif itu pun mulai menghantui. “bagaimana jika anak putra itu jahilnya luar biasa? Kata orang, anak Islamic biarding school itu kalau yang sholeh sholeeeh banget ya kalau yang nakal nakaalnya juga banget”. Lagi, takdir mengantarkan saya pada hal-hal yang saya takuti. Dari lima kelas yang saya ajar, 3 kelas diantaranya adalah kelas putra.
Saya berusaha kembali menjawab ketakutan ini dengan berhusnudzon. Allah mengetahui kelemahan saya, dan saya diuji untuk dapat melewatinya dengan kemampuan/ potensi saya yang saya sendiri masih meragukannya akan tetapi Allah maha mengetahui bahwa saya memiliki potensi itu. Hari yang ditunggu dan mendebarkan pun tiba. Hari pertama mengajar dan hari pertama itu jatuh pada kelas XII IPA 1 yang merupakan kelas putra. Dag dig dug pasti, bahkan seperti mau sidang skripsi saja rasanya. Saya melangkah memasuki kelas kemudian mengucapkan salam. Saya tatap semua mata yang juga menatap saya dengan rasa penasaran. Bahkan sebelumsaya mulai perkenal, beberapa orang sudah memulainya dengan pertanyaan. “ibu guru baru ya? Ngajar apa bu?”.  Saya potong pertanyaan mereka dengan memerintahkan ketua kelas untuk berdo’a terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran. Selesai berdo’a, maka pembelajran pun saya mulai dengan berkenalan terlebih dahulu.
Saya memperkenalkan diri seperti biasa, nama, asal daerah, riwayat pendidikan dan tentunya sebagai guru apa. Kemudian saya menyatakan cukup untuk perkenalan diri saya, dan sekarang giliran murid yang memperkenalkan diri. Tiba-tiba beberapa orang mengangkat tangan dan menyampaikan pendapatnya bahwa perkenalan dirasa belum cukup dan masih ada pertanyaan dari mereka. Hmm, dengan sedikit berat hati saya persilakan beberapa orang untuk menyampaikan pertanyaan. Tentunya sudah saya duga, pertanyaan yang sama dan selalu muncul di empat kelas lainnya “ibu usianya berapa tahun? Sudah menikah atau belum?” sebenarnya itu adalah pertanyaan standar yang bisa saja saya beritahu ketika awal memperkenalkan diri, akan tetapi saya tidak mau terlebih dahulu menyampaikan itu di awal perkenalan. Oia, ada satu pertanyaan yang paling lucu diantara yang lainnya : “ibu sudah punya calon suami? Target nikah ibu kapan?” Pertanyaan yang saya jawab dengan sedikit diplomatis,. *haha   

Minggu, 04 Januari 2015

Sajian Spesial Akhir Tahun



Desember 2014, bulan terakhir di tahun 2014 yang menyajikan banyak pembelajaran spesial bagi saya. Kisah yang banyak mengingatkan saya tentang makna kehidupan. Kebahagiaan dan kesedihan tentu akan datang silih berganti dalam kehidupan ini. Keduanya adalah ujian. Ujian bagaimana seharusnya kita menyikapi kebahagiaan dan kesedihan. Banyak makna dan hikmah dalam setiap kisah di dunia ini. Saya ingat seseorang yang mengatakan : “dalam setiap takdir Allah itu pasti terdapat hikmah dan pasti adil”. Keterbatasan ilmu kita (manusia)lah yang membuat kita (manusia) tidak menyadarinya.
20 Desember 2014 bisa disebut sebagai hari yang cukup bersejarah bagi saya. Hari ketika saya resmi diwisuda sebagai sarjana pendidikan matematika. Sebenarnya bagi saya momen yang paling membuat saya terharu adalah ketika sidang skripsi dan pengumuman kelulusan. Wisuda menjadi special karena keluarga ikut datang menyaksikan. Kebahagiaan terbesar saya adalah ketika menyaksikan kedua orangtua saya bahagia. Mereka lah yang sangat berperan selama ini. Mereka tak pernah lelah mendo’akan, membimbing, mendukung saya sampai saya bisa menyelesaikan studi S1 saya. Apapun yang saya lakukan sebagai bakti saya kepada orangtua tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan untuk saya. Saya merasa begitu bersyukur bisa disampaikan olehNya pada momen 20 desember 2014.  
Tak lama setelah momen kebahagiaan wisuda, momen liburan yang ditunggu pun tiba. Momen ketika liburan yang paling saya tunggu adalah saat-saat berkumpul bersama keluarga. Selama kurang lebih 4 tahun saya di bandung, kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga tak pernah berkurang sedikit pun. Kebahagiaan pun semakin bertambah karena pada 28 Desember 2014 keluarga saya pindah rumah ke daerah tempat lahir mamah. Keinginan kami untuk dapat berkumpul bersama keluarga akhirnya dikabulkan oleh Nya. Bagaimana tidak bahagia? Kini kami tinggal berdekatan dengan keluarga kami, terutama keluarga dari mamah termasuk bapa (kakek) & mimih. Semenjak kecil saya dan adik-adik memanggil kakek dengan sebutan bapa. Awalnya mungkin karena mendengar mamah memanggil beliau bapa, jadi saya mengikutinya.
31 Desember 2014. Tiga hari setelah kepindahan kami, pukul 08.00 am bapa (kakek) mengeluh sakit sesak. Kami sekeluarga berkumpul di rumah bapa (kakek). Kemudian kami memutuskan membawa bapa (kakek) ke rumah sakit. Hampir semua keluarga ikut ke rumah sakit. Saya tetap tinggal di rumah bersama mamah karena mengingat kondisi mamah yang lemah. Tak lama berselang, uwa menelpon memberitahukan bahwa bapa (kakek) masuk ruang ICU. Ayah dan adik pertama saya yang di rumah sakit menitip pesan supaya jangan dulu memberitahu mamah. Saya berusaha untuk merahasiakannya, akan tetapi mamah pun akhirnya tahu. Alhamdulillah, kondisi mamah tidak selemah yang kami perkirakan. Mamah cukup kuat menerima kabar itu. Akan tetapi, kekhawatirannya tetap tergambar jelas di wajahnya. Saya berusaha menenangkan diri supaya kuat menerima takdir apapun itu, walaupun di dalam hati saya pun merasakan begitu khawatir dengan kondisi bapa (kakek).
08.30 pm ayah saya dari rumah sakit menelpon kembali. Saya merima telponnya dengan perasaan yang tidak karuan. Berita itu membuat saya sejenak tak dapat berpikir, air mata terus mengalir yang membuat mamah yang menyaksikan ikut menangis sembari terus menanyakan kenapa bapa? Ada apa? Saya menutup telpon dengan tangan gemetar. Saya mencoba menenangkan diri untuk menyampaikan berita itu kepada mamah. Saya harus kuat, supaya mamah pun bisa kuat menerima takdir ini. Setelah mendengar berita itu, tangis mamah pun pecah tak tertahan. Badannya lemas, untuk berdiri saja tak mampu. Saya berusaha mendampinginya supaya bisa lebih kuat. Perlahan-lahan keluarga dan tetangga mulai berdatangan ke rumah bapa(kakek), sedangkan saya dan beberapa keluarga masih di rumah kami berusaha menguatkan mamah. Setelah mamah merasa cukup kuat untuk berdiri, kami pun pergi ke rumah bapa (kakek) yang hanya berjarak beberapa meter. Sepanjang perjalanan ke rumah bapa (kakek) mamah terus memegang erat tangan ini, berusaha menguatkan dirinya.
  Sesampainya di rumah bapa (kakek), jenazah baru saja sampai di antar ambulance. Tangis mamah kembali pecah bersama dengan kakak-kakaknya dan adik-adiknya. Air mata saya pun mengalir semakin deras. Takdir seperti yang saya tulis diatas, sepahit apapun itu, pasti terdapat  hikmah dan pasti adil. Salah satu yang membuat kami ingin pindah ke daerah kelahiran mamah adalah agar kami bisa lebih dekat dengan keluarga terutama bapa (kakek) yang sering sakit. Tiga hari setelah kepindahan kami, bapa (kakek) dipanggil olehNya. Sedih dan pahit rasanya, akan tetapi ini adalah takdirNya dan Allah maha mengetahui yang terbaik untuk kami. Mamah dari hari ke hari semakin kuat menerima takdir bahwa orangtua satu-satunya kini telah menghadap Ilahi.
Ya, begitulah kematian. Datangnya tak pernah dapat kita prediksi. Hari senin (29/12/2014) malam bapa(kakek) menginap di rumah kami. Malam itu, kondisinya terlihat membaik, bahkan kami sempat mengobrol tertawa bersama menceritakan kisahnya jaman dulu. Tak pernah disangka bahwa 2 hari kemudian maut menjemputnya. Kematian adalah pelajaran berharga bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup. Bahwa maut datang tiba-tiba, bahwa hanya amal yang akan dibawa ketika maut telah datang menjemput, bahwa kita harus senantiasa berusaha selalu istiqomah di jalanNya dan berdo’a agar dapat husnul khotimah. InsyaAllah Bapa(kakek) sudah tenang di sana, tinggal tugas kami sebagai keturunannya untuk senantiasa mendo’akannya dan menjadi keturunan yang sholeh dan sholehah.    

Sabtu, 12 Juli 2014

Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Peduli Palestina



Akhir-akhir ini berita begitu ramai membicarakan beberapa peristiwa besar di dunia ini. Pertama, berita Piala Dunia. Ajang 4 tahunan yang banyak menyedot perhatian terutama untuk para penggemar sepak bola. Kedua, Pemilihan Presiden di Indonesia. Agenda 5 tahun sekali yang rutin bangsa Indonesia laksanakan sejak tahun 2004. Dan yang ketiga adalah berita penyerangan Israel ke jalur Gaza. Ketiga peristiwa besar tersebut bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Berita ketiga menjadi berita yang begitu memilukan bagi saya. Bagaimana tidak? Untuk kesekian kalinya Palestina tepatnya jalur Gaza dibombardir Israel. Berbagai dalih disampaikan pihak Israel untuk membenarkan tindakannya menyerang jalur Gaza. Tidak ada satu pun rasionalisasi mereka yang rasional.

Mereka berdalih bahwa pejuang Palestina yang membuat mereka melakukan serangan itu. 3 orang yahudi yang ditemukan tewas setelah hilang beberapa hari merupakan salah satu alasan mereka. Mereka menuding bahwa pejuang Palestina lah yang membunuhnya. Padahal tidak ada sedikitpun bukti yang mengarah bahwa pejuang Palestina adalah pelakunya. 

Mereka mengatakan itu adalah serangan balasan atas serangan roket Pejuang Palestina. Roket rakitan pejuang Palestina mereka balas dengan meluncurkan ratusan roket mutahir ke jalur Gaza. Mereka yang memiliki teknologi kubah besi tidak mudah ditembus roket rakitan pejuang Palestina. Kubah besi adalah teknologi yang dapat mencegah serangan roket yang menuju daerah-daerah penting di Israel. Dengan kubah besi itu, roket yang menuju daerah penting di Israel akan dihancurkan di udara. Hanya roket yang menuju daerah tidak penting seperti lahan kosong lah  yang akan sampai (tidak dihancurkan). Kubah besi, teknologi canggih yang tentunya menguras kantong untuk membuatnya. Israel tidak khawatir akan hal itu, sahabatnya tercinta (Amerika Serikat) dengan senang hati membantu pembuatan kubah besi itu. Palestina? Jangankan kubah besi secanggih itu, senjata yang mereka gunakan untuk membela diri saja adalah senjata rakitan sendiri. Sudah sejak lama mereka diblokade. Terlalu tidak seimbang kekuatan senjata antara Israel dan Plaestina.

Mereka mengatakan bahwa yang diserang adalah rumah dan markas pejuang Palestina yang tentunya sangat mereka benci. Kenyataannya? Berbagai fasilitas umum pun dihancurkan. Mesjid, Sekolah, Rumah Sakit ikut hancur. Korban? Tidak perlu ditanyakan lagi. Semakin tidak seimbang. Berita terakhir mengatakan sebanyak 122 orang Palestina meninggal dunia. Mereka mengatakan bahwa yang mereka serang adalah pejuang Palestina yang mengganggu mereka. Tapi puluhan warga sipil yang sama sekali tidak mepersenjatai diri seperti anak-anak, wanita, bahkan ibu hamil menjadi korban. Ini bukan penyerangan lagi, tapi ini adalah sebuah pembantaian. Dan lagi-lagi dan adidaya tidak menunjukkan taringnya.

Pejuang palestina adalah orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya. Pejuang Palestina adalah saudara kita yang tengah berjuang untuk mempertahankan bangsanya dari penjajahan. Bagaimana mungkin saudara kita ini berdiam diri menyaksikan tanah kelahirannya direbut paksa, dijadikan pemukiman yahudi yang mewah. Bagaimana mungkin di dunia modern seperti saat ini dimana kebebasan berpendapat digaungkan sebagai hak asasi manusia penjajahan dan pembantaian dibiarkan begitu saja. Banyak yang mengatidakan, tidak perlu menjadi seorang muslim untuk peduli terhadap Palestina. Cukup dengan menjadi manusia, jika rasa kemanusiaanmu masih ada maka kau akan peduli masalah Palestina.
 
Negara-negara kuat banyak, tapi tidak mampu berbuat banyak untuk Palestina. Apakah HAM tidak berlaku untuk manusia di Palestina? Negara-negara muslim yang kekayaannya luar biasa jumlahnya tidak sedikit. Lalu kemana mereka? Bahkan untuk sekedar bersuara lantang membela Palestina pun mereka tidak ada nyali. Hati nurani mereka terkubur kemewahan duniawi. 

Tidak sedikit pula muslim yang masih bertanya, mengapa kita harus membela dan peduli terhadap Paestina? Sebagai manusia (yang masih memiliki rasa kemanusiaan) saja, seharusnya kita sudah dapat peduli terhadap Palestina. Apalagi jika kita adalah seorang muslim. Yang tengah dijajah dan disakiti di Palestina itu adalah saudara seiman kita. Apalagi jika kita adalah seorang muslim. Yang tengah dibombardir itu satu tubuh dengan kita, ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh anggota tubuh lain pun ikut merasakan sakit. Apalagi jika kita seorang muslim. Yang tengah dihancurkan itu adalah tempat dimana masjid al aqsho berada. Kiblat pertama kita. Salah satu tempat dimana Rasulullah yang kita cintai mengalami peristiwa isra mi’raj. Apalagi jika kita adalah seorang muslim. Bumi yang tengan digempur itu adalah bumi para nabi. Beberapa nabi lahir disana. Apalagi jika kita adalah seorang muslim. Begitu banyak alasan untuk peduli terhadap Palestina. Lalu masih kah bertanya kenapa harus peduli terhadap Palestina?

Tidak ada lagi alasan untuk tidak membela dan peduli terhadap Palestina. Terlebih jika kita adalah seorang muslim. Ekspresikan kepedulian kita terhadap saudara kita disana. Yakinkan saudara kita bahwa mereka tidak berjuang sendiri. Kita berada di barisan yang sama, memperjuangkan kemerdekaan Palestina, membebaskan al aqsho. Lakukan apapun sesuai kemampuan kita untuk membantu saudara kita saat ini. Dengan tenaga, harta, apapun itu yang bisa meringankan beban saudara kita. Tidak lupa, selalu do’akan saudara kita. Saudara kita yang belum bisa merasakan kenyamanan seperti yang kita rasakan. Saudara kita yang tengah berjuang di jalanNya dimanapun mereka berada.

Suchy.L.Pratiwi
Sabtu, 11072014
11.30 pm


Kamis, 15 Mei 2014

Kesuksesan Seorang Perempuan


 “Ibu saya tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga.” Beberapa kali saya mendengar kalimat ini terlontar dari seorang anak. Atau kalimat ini : “untuk apa perempuan itu sekolah tinggi-tinggi kalau nantinya juga hanya jadi ibu rumah tangga.” Mendengar kalimat-kalimat tersebut, telinga saya tak nyaman rasanya. Mulut ini kadang tak tertahan untuk berkomentar.
Bagi sebagian masyarakat masih melekat kuat pandangan bahwa jika seorang perempuan itu hanya menjadi ibu rumah tangga (tidak bekerja/berkarir) maka tak ada yang spesial yang bisa dibanggakan darinya. Rata-rata masyarakat berpandangan bahwa perempuan sukses itu adalah perempuan yang bekerja dengan penghasilan yang besar, mampu membeli mobil, perhiasan tanpa perlu menunggu nafkah dari suaminya.
Pandangan mayoritas masyarakat ini pun ternyata berpengaruh pada pandangan anak terhadap ibunya. Beberapa anak merasa bahwa tak ada yang patut dibanggakan jika ibunya hanya ibu rumah tangga dan mereka lebih bangga jika ibunya sibuk bekerja di luar, banyak menghasilkan uang. Jika memang orientasi utama dalam kehidupan ini adalah materi, maka pandangan-pandangan seperti itulah yang akan muncul. Sukses atau tidaknya perempuan hanya dipandang dari satu sisi saja, yaitu materi.
Padahal pada hakikatnya dalam kehidupan ini kebahagiaan hakiki itu bukan terletak pada materi. Kata siapa?? Terlalu banyak contoh yang menjadi bukti bahwa berlimpah materi tak menjamin kehidupan itu akan bahagia. Salah satu hal yang paling mengusik saya adalah ketika seorang anak tak bangga dengan ibunya bahkan terkesan malu, hanya karena ibunya tidak bekerja (ibu rumah tangga).
Jika ibu mu adalah ibu rumah tangga, maka kamu patut berbangga dengannya. Bagaimana tidak? Dia adalah orang yang luar biasa sukses. Dia seorang guru yang paling sabar, mengajarkanmu segalanya. Tak hanya pelajaran di sekolah seperti matematika dan yang lainnya tapi ia juga mengajarkanmu tentang kehidupan ini semenjak kamu masih dalam kandungannya. Ya, ia adalah madrasah pertamamu. Dia seorang koki yang hebat. Apapun makanan yang kau sukai, ia pasti akan memasakannya untukmu. Dan taukah kamu? Ada rasa yang berbeda ketika kamu memakannya bukan? Makanan seorang ibu akan nyaman di lidahmu. Karena ada kasih sayang tulus yang menjadi bumbu rahasia. Dia adalah dokter paling keren. Ketika kamu sakit, bahkan hanya dengan pelukannya saja kamu akan merasakn ada energi yang menjadikan tubuhmu lebih kuat. Dua tahun ia berikan ASI untukmu agar benteng pertahanan tubuhmu kokoh. Semuanya itu ibu mu lakukan dengan penuh keikhlasan hanya untukmu. Dia adalah menteri keuangan yang cerdas. Mengelola keuangan di rumah tangga agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Termasuk mengelola keuangan untuk kebutuhan mu saat ini dan di masa depan. Tak ada lagi alasan untuk tak berbangga jika ibu mu adalah ibu rumah tangga.
Jika ibu mu itu bekerja. Maka kamu tak kalah harus berbangga padanya. Bagaiamana tidak? Ketika ibu mu masih lelah karena baru pulang bekerja, dengan sabar ia membantumu mengerjakan PR dan membimbingmu belajar. Dia bangun begitu pagi agar bisa mempersiapkan makanan untuk sarapanmu sebelum ia pergi bekerja. Sepulangnya bekerja, ia selalu dengan sigap mendengarkan ceritamu, menanggapi rengekanmu dengan senyuman, menemanimu sampai kamu tertidur lelap walaupun lelah masih hinggap di tubuhnya. Ketika kamu sakit. Walaupun hanya sedikit demam, ia akan rela ijin tak bekerja untuk menemanimu. Karena baginya bekerja ketika kamu sakit akan membuat pikirannya tak fokus, teringat terus kamu. Luar biasa bukan ibumu? Bukan uang yang menjadi tujuan utama ia bekerja. Karena baginya, kamu itu tak dapat ditandingkan dengan uang sebanyak apapun itu. Kamu begitu berharga baginya. Betapa cerdasnya ia. Mengatur waktu dan segalanya, agar pekerjaan tak menjadikan dirimu kehilangan sosok ibu. Dia tetap menjalankan perannya sebagai ibu untukmu.
Ibu mu ibu rumah tangga atau pun ibu mu itu bekerja, kamu patut berbangga padanya. 
Lalu bagaimana denga ibu yang sibuk bekerja di luar tanpa bisa menjalankan tugasnya sebagi seorang ibu? Justru di situ lah kesuksesan seorang perempuan diuji. Perempuan yang sukses bukan dilihat dari ia bekerja atau tidak. Tak terletak pada besarnya pengahasilan per bulan. Tapi terletak pada kemampuannya menjalankan perannya sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya dan seorang istri untuk suaminya. Maka kuno rasanya bagi yang masih beranggapan : ”untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika nantinya hanya jadi ibu rumah tangga.” Justru untuk menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga diperlukan banyak ilmu. Maka jangan lagi aneh melihat seorang perempuan dengan gelar doktor tidak bekerja diluar, menjadi ibu rumah tangga Bukan berarti hanya yang berpendidikan tinggi yang bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tapi dibutuhkan banyak ilmu untuk dapat menjalankan tugas ibu rumah tangga dengan baik. Tingginya tingkat pendidikan seseorang tak selalu berbanding lurus dengan ilmu yang ia miliki. Ilmu bisa diperoleh dimana pun. Tak hanya melalui pendidikan formal. Bukankah Allah telah menebarkan ilmuNya di muka bumi ini. Maka pantaslah bahwa kewajiban menuntut ilmu itu dari mulai lahir sampai nafas ini tak lagi ada. Begitu pun untuk seorang ibu dan calon ibu, tak akan pernah berhenti untuk selalu belajar hingga ajal menjemput.   
  Semoga tulisan ini bermanfaat.
Suchy_15/5/2014
23.00

Jumat, 18 Oktober 2013

Kemenangan Penuh Makna



Ada sesuatu yang berbeda pada sholat isya berjamaah malam ahad kemarin. Selain karena berjamaah bersama keluarga setelah sekian lama tak pulang, ada satu do’a yang kami selipkan setelahnya. Do’a untuk timnas u 19 yang akan bertanding melawan Korea Selatan di ajang kualifikasi pra piala Asia u 19. Salah satu pertandingan yang banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia diharuskan berhadapan dengan juara bertahan 12 kali di ajang Piala Asia u 19 itu. Ini bukan pertandingan sepak bola pertama kalinya yang saya tonton. Tapi pertandingan ini membuat saya excited karena ada beberapa hal yang manarik dalam timnas u 19 ini. Permainan timnas u 19 yang menurut para pengamat sepak bola membawa optimisme dunia persepakbolaan Indonesia setelah menang di Piala AFF. Hal yang paling menarik untuk saya adalah gaya selebrasi mereka ketika gol tercipta. Ya, bersujud syukur di lapangan.
Ada satu hal yang membuat saya bertahan menonton sepak bola, yaitu permainan yang menarik. Permainan saling serang dengan tempo cepat. Itu sebabnya, tidak semua pertandingan sepak bola bisa saya tonton hingga selesai. Jika permainannya begitu membosankan, saya akan dengan segera meninggalkannya. *Hhe.. Ayahlah yang memperkenalkan saya dalam menonton sepak bola. Meski bukan penggila bola, tapi ketika ada pertandingan sepak bola yang menarik untuk ditonton dan masih di jam yang bersahabat dengan mata, beliau pasti menontonnya. Jadi ingat ketika pertama kali ayah menjelaskan peraturan-peraturan dalam pertandingan sepak bola. Dengan sabar beliau menjawab setiap pertanyaan saya yang penasaran kenapa itu disebut pelanggaran, kenapa jadi tendangan finalti dan lain-lain. Dari jawaban-jawabannya itu lah saya bisa lebih mengerti peraturannya.
Kembali ke pertandingan timnas u 19. Awalnya saya kurang begitu yakin timnas u 19 akan menang melawan Korsel. Bukan karena tidak membela negara sendiri. Hanya saja jika dilihat dari catatan gelar Korsel sebagai juara bertahan 12 kali, rasanya bermain dengan skor imbang saja sudah luar biasa bagus untuk timnas u 19. Pertandingan pun dimulai. Kami menyaksikannya ditemani snack yang terus saya dan adik saya cemili. Kedua tim menyuguhkan permainan -yang saya sebut- menarik. Hujan turun dengan deras di stadion utama GBK. Pertandingan pun di tunda beberapa menit untuk mengurangi genangan air di lapangan.
Teriakan kami pun pecah ketika gol dari timnas u 19 dilesatkan dengan begitu keras oleh sang kapten Evan Dimas. Ya, inilah yang saya tunggu-tunggu. Menyaksikan sujud tanda syukur yang menjadi selebrasi khas mereka. Tak lama berselang, korsel menyamakan skor atas ganjaran tendangan finalti yang gagal di atasi penjaga gawang timnas u 19. Terbesit dalam hati, biasanya setelah timlawan menyamakan skor mental timnas akan menurun yang membuat permainannya tak lagi fokus. Tapi dugaan itu meleset. Mereka tetap bermain dengan berani menyerang dan menciptakan beberapa peluang yang membuat ayah memukul lantai. Setelah beberapa peluang emas yang tidak tereksekusi dengan baik. Akhirnya sang kapten kembali membuat timnas u 19 unggul menang dengan skor 3-2.
Setelah menyaksikan kemenangan timnas u 19, muncul pertanyaan dalam benak saya. Apa yang menjadikan timnas u 19 ini bisa menang dan bermain dengan baik. Mereka mengekspresikan rasa syukurnya dengan bersujud syukur di lapangan –sesuatu yang jarang dilakukan-. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidaklah lupa akan Allah, Tuhan semesta alam yang dengan ijinNya lah gol itu bisa tercipta. Suatu pesan yang begitu mendalam. Mengingatkan kita akan kuasaNya yang sering terlupakan. Banyak orang yang selalu fokus dengan usaha dirinya sendiri, sehingga merasa sombong berhasil atas usahanya sendiri melupakan bahwa ada kuasaNya dalam keberhasilan yang dicapai itu. Rasa syukur yang timnas u 19 tunjukkan itu yang membuat kemenangan mereka terasa bermakna, bukan kemenangan hampa dengan selebrasi rasa angkuh. Benarlah firman Allah yang menyebutkan bahwa akan Allah tambahkan nikmat bagi hambanya yang bersyukur.
Dalam wawancara di stasiun televisi, sang pelatih menyebutkan bahwa dalm timnya ada pelatih yang khusus menangani mental para pemain. Beberapa hal yang diungkapkan sang pelatih dalam sebuah wawancara: “… Saya ingin mereka juga bisa menjadi panutan dimanapun mereka berada… Ya, mereka yang muslim kami adakan pengajian untuk melatih mental mereka…”. Wajar rasanya jika mental pantang menyerah itu terbangun dengan baik dalam skuad timnas u 19. Selain beberapa hal di atas, ada satu fakta yang membuat saya mengangguk-anggukan kepala dan berbisik dalam hati, wajar saja kalau kemenangan mereka rengkuh. Fakta itu adalah ketika dalam suatu Koran online terungkap bahwa salah satu pemain timnas u 19 selalu berwudhu sebelum bermain. Sosok pemuda yang selalu ingat akan Tuhannya. Itulah yang kini mulai hilang dari generasi muda Indonesia. Bukan hanya di dunia sepak bola. Jika pada generasi muda ditanamkan ajaran agama yang kuat, maka akan terukir jutaan prestasi. Prestasi sarat akan makna. Bukan prestasi kerontang dengan keangkuhan diri merasa paling hebat, seolah Allah tak ada.
Kemenangan yang terjadi tanpa mengingatNya -baik itu dalam proses mencapainya atau ketika kita dapat mencapainya- tidak akan bercerita banyak makna. Terasa kering, menghilang begitu saja tanpa meninggalkan kebermanfaatan. Itulah sebabnya kenapa kita sebagai muslim selalu diperintahkan untuk menyertai usaha (ikhtiar) kita dengan berdo’a. Memohon kepada yang Maha berkuasa atas segalanya, karena dengan itulah keberkahan akan didapat. Sesuatu yang membedakan kemenangan seorang muslim yang takwa.
Semoga bermanfaat..
      
Bandung 18102013 20.00 PM